
Kawasan Malang Raya, khususnya Kota Batu, terus memantapkan posisinya sebagai kiblat destinasi wisata buatan dan keluarga terlengkap di Jawa Timur. Perpaduan sempurna antara udara pegunungan yang sejuk, konsep taman hiburan modern, dan edukasi interaktif menjadikan daerah ini pilihan utama bagi keluarga yang ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama. Dari wahana rekreasi edukatif hingga spot pemandangan alam dari ketinggian, kawasan ini menyajikan pilihan liburan yang lengkap untuk segala usia.
Jaringan Jawa Timur Park (Jatim Park 1, 2, dan 3) menjadi ikon utama yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Batu. Masing-masing wahana menawarkan pengalaman yang berbeda: Jatim Park 1 memadukan wahana permainan ekstrem dengan edukasi budaya Nusantara, Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo) menghadirkan konservasi satwa modern berstandar internasional, sementara Jatim Park 3 membawa pengunjung melintasi waktu ke zaman purba lewat Dino Park serta museum musik dunia. Konsep visual yang tertata rapi dan aman untuk anak-anak menjadikannya selalu ramai dikunjungi tiap musim liburan.
Tak jauh dari situ, Museum Angkut menawarkan petualangan visual bertema transportasi internasional pertama di Asia Tenggara. Tempat ini memamerkan ratusan koleksi moda transportasi dari berbagai era dan belahan dunia, mulai dari sepeda kumbang tradisional hingga pesawat kepresidenan. Zona-zona tematik yang didesain mirip jalanan kota di Eropa, Amerika, dan Asia memberikan latar belakang foto yang ciamik sekaligus pengetahuan sejarah perkembangan teknologi transportasi dunia bagi para pengunjung.
Bagi pencinta pemandangan alam dan suasana malam hari, spot ketinggian seperti Malang Skyland hadir melengkapi tren wisata kekinian. Berada di lereng pegunungan, destinasi ini menawarkan panorama lanskap Malang Raya dari ketinggian lengkap dengan jembatan kaca (sky bridge), area lounge santai, dan spot foto berlatar lampu-lampu kota yang memukau (city light). Tempat ini sangat cocok untuk melepas penat bersama keluarga sambil menikmati sejuknya hawa pegunungan.
Dengan terus berkembangnya ragam wahana tematik dan fasilitas yang semakin terintegrasi, Malang dan Batu membuktikan bahwa inovasi wisata buatan dapat berjalan iring dengan daya tarik alam. Baik untuk sarana rekreasi anak, ajang edukasi interaktif, maupun sekadar tempat berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, destinasi di kawasan ini akan tetap berada di deretan atas daftar liburan favorit masyarakat.
Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/rencana-liburan-masih-wacana-saatnya-gas-poll-ke-batu-malang

Kabar baik bagi wisatawan, kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, kembali dibuka untuk kunjungan mulai Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 00.01 WIB. Keputusan tersebut diambil Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) setelah melakukan pemantauan dan evaluasi kondisi kawasan pascakebakaran. (Antara News Jawa Timur)
Sebelumnya, seluruh akses wisata Bromo ditutup sejak 8 Agustus 2026 untuk mendukung proses penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran tersebut berhasil dipadamkan sepenuhnya setelah berlangsung selama sekitar 13 hari dengan melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur. (Antara News Jawa Timur)
Pembukaan kembali kawasan Bromo dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan wisatawan dan petugas. Seluruh pintu masuk wisata, termasuk Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro, kembali dapat digunakan setelah sebelumnya ditutup akibat perkembangan kebakaran. (Antara News Jawa Timur)
TNBTS juga memastikan kuota kunjungan tetap 2.752 orang per hari. Wisatawan yang ingin berkunjung sudah dapat melakukan pemesanan tiket melalui laman resmi Bromo Tengger Semeru. (Antara News Jawa Timur)
Meski kembali dibuka, pengelola mengingatkan wisatawan untuk tetap menjaga keamanan dan kelestarian kawasan. Pengunjung dilarang melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk membuat perapian atau membuang puntung rokok maupun benda lain yang dapat menjadi sumber api. (Antara News Jawa Timur)
Pembukaan kembali Bromo menjadi kabar positif bagi wisatawan sekaligus pelaku usaha pariwisata di sekitar kawasan. TNBTS mengajak seluruh pengunjung dan pelaku wisata untuk bersama-sama menjaga kawasan agar tetap aman, bersih, dan terhindar dari kejadian kebakaran kembali. (Antara News Jawa Timur)

DENPASAR, BALI — Bali selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di dunia. Keindahan alam, kekayaan budaya, tradisi, hingga keramahan masyarakat membuat Pulau Dewata tidak pernah kehilangan daya tarik bagi wisatawan. Namun, di tengah tingginya aktivitas pariwisata, Bali kini menghadapi tantangan baru. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi bagaimana memastikan pariwisata memberikan dampak positif bagi alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.
Karena itu, Bali kini didorong untuk naik kelas dari konsep pariwisata berkelanjutan menuju pariwisata regeneratif. Dorongan tersebut disampaikan pengamat ekonomi dan pariwisata sekaligus Pengurus PHRI Bali, Dr. Trisno Nugroho, pada Kamis (13/8/2026). Menurutnya, Bali membutuhkan pendekatan pariwisata yang tidak hanya berusaha menjaga destinasi agar tidak rusak, tetapi juga mampu memulihkan dan memperkuat lingkungan, budaya, serta masyarakat. (BALIPOST.com)
Tantangan Bali Semakin Kompleks
Popularitas Bali menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula aktivitas ekonomi yang tercipta. Namun, pertumbuhan tersebut juga membawa tekanan terhadap berbagai aspek, mulai dari lingkungan, sampah, air, penggunaan lahan hingga kepadatan di sejumlah kawasan wisata.
Di sisi lain, budaya Bali harus tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan tidak berhenti sebagai atraksi untuk wisatawan. Karena itu, arah pembangunan pariwisata Bali dinilai perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian destinasi. Pendekatan regeneratif dapat menjadi salah satu jawaban karena menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam pengelolaan destinasi.
Salah satu contoh yang sering dikaitkan dengan pendekatan tersebut adalah Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli.
Penglipuran dikenal karena tata ruang tradisional, kebersihan, budaya, serta kehidupan masyarakatnya yang masih kuat. Desa tersebut juga menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan wisata dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan adat dan lingkungan. (Antara News) Panglipuran Festival 2026 bahkan mengangkat tema “Harmoni Bumi Panglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif”, dengan pelestarian adat, budaya, dan lingkungan sebagai bagian dari pengembangan destinasi. (Antara News)
Namun, popularitas juga membawa konsekuensi. Ketika jumlah kunjungan meningkat, pengelolaan sampah, jalur wisata, ruang desa, hingga kelestarian lingkungan harus mendapatkan perhatian lebih besar. Karena itu, masyarakat lokal perlu tetap memiliki peran utama dalam menentukan bagaimana pariwisata dikembangkan di wilayah mereka.
Perubahan paradigma juga dapat mengubah cara wisatawan menikmati Bali. Wisatawan tidak lagi hanya dipandang sebagai konsumen yang membeli kamar hotel, makanan, tiket atraksi, atau suvenir. Mereka dapat menjadi bagian dari upaya menjaga destinasi. Misalnya dengan memilih usaha milik masyarakat lokal, menggunakan jasa pemandu lokal, mengunjungi desa wisata, menghormati aturan adat, mengurangi sampah plastik, serta memilih aktivitas wisata yang tidak merusak lingkungan.
Pola perjalanan seperti ini juga berpotensi membuat manfaat ekonomi pariwisata tersebar lebih luas. Asosiasi biro perjalanan wisata di Bali sebelumnya juga menekankan pentingnya desa wisata untuk memperkuat diversifikasi produk pariwisata dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Antara News) Bali memiliki keunggulan yang tidak mudah ditiru destinasi lain. Keindahan alam memang menjadi daya tarik, tetapi kekuatan terbesar Bali juga terletak pada budaya dan kehidupan masyarakatnya. Tradisi, desa adat, upacara, seni, arsitektur, kuliner, hingga filosofi kehidupan menjadi bagian dari pengalaman wisata yang membuat Bali berbeda. Jika pertumbuhan pariwisata hanya mengejar jumlah wisatawan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan dan budaya, ada risiko bahwa daya tarik tersebut justru semakin berkurang.
Karena itu, transformasi menuju pariwisata regeneratif bukan berarti Bali harus berhenti menerima wisatawan. Sebaliknya, Bali tetap dapat menjadi destinasi dunia, tetapi dengan cara yang lebih berkualitas dan memberikan manfaat jangka panjang.
Perubahan arah pariwisata Bali pada akhirnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku industri. Hotel, restoran, biro perjalanan, pengelola destinasi, desa adat, pelaku UMKM, masyarakat lokal, hingga wisatawan memiliki peran masing-masing. Ukuran keberhasilan pariwisata Bali ke depan tidak cukup hanya dengan menghitung berapa juta wisatawan yang datang.
Yang tidak kalah penting adalah melihat seberapa besar pariwisata mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga budaya, memulihkan lingkungan, dan memastikan Bali tetap menjadi tempat yang layak dihuni sekaligus dikunjungi. Bali mungkin tidak perlu menjadi destinasi dengan wisatawan terbanyak.
Yang lebih penting, Bali dapat menjadi destinasi yang memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan sekaligus meninggalkan manfaat terbaik bagi masyarakat dan lingkungan.

BANJARNEGARA – Dieng Culture Festival (DCF) 2026 kembali menjadi salah satu agenda wisata yang dinantikan di Jawa Tengah. Festival yang menggabungkan budaya, seni, musik, dan wisata alam ini akan digelar pada 28–30 Agustus 2026 di kawasan Candi Dieng, Banjarnegara. Tahun ini, DCF mengusung tema “Spirit of Harmony”, yang mengangkat semangat keharmonisan antara manusia, sesama, dan alam.
Salah satu daya tarik yang paling ditunggu adalah Jazz Atas Awan yang kembali hadir setelah pada penyelenggaraan sebelumnya menggunakan konsep berbeda. Pertunjukan musik tersebut akan menjadi salah satu agenda utama DCF 2026, menghadirkan pengalaman menikmati musik di tengah udara sejuk dan panorama pegunungan Dieng. Jadi, jangan lupa membawa jaket—karena yang “dingin” bukan cuma musiknya.
DCF 2026 juga bukan sekadar festival musik. Salah satu agenda budaya yang menjadi ciri khasnya adalah ritual pencukuran rambut anak gimbal yang dijadwalkan berlangsung di kawasan Candi Arjuna. Selain itu, rangkaian acara mencakup berbagai kegiatan seni dan budaya, festival kopi, Dieng Bersih, festival domba Batur, serta kirab budaya.
Kemeriahan DCF juga diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat dan pelaku UMKM setempat. Wisatawan dapat menemukan berbagai produk khas Dieng dan Banjarnegara, seperti carica, purwaceng, kopi, batik, dan kerajinan lokal. Dengan konsep berbasis budaya dan masyarakat, DCF 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi wisata serta ekonomi kreatif Jawa Tengah.
Dengan perpaduan musik, tradisi, alam, dan kuliner lokal, Dieng Culture Festival 2026 diprediksi kembali menarik wisatawan dari berbagai daerah. Jadi, bagi yang berencana berkunjung, catat tanggalnya: 28–30 Agustus 2026. Siapkan jaket, kamera, dan stamina. Sebab di Dieng nanti bukan cuma Jazz Atas Awan yang naik tinggi—semoga kenangan liburannya juga ikut naik, bukan harga oleh-olehnya saja.

PANGANDARAN — Kalau liburan ke Pangandaran biasanya identik dengan pantai, ada satu destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda: Green Canyon Pangandaran. Berada di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, kawasan ini menghadirkan pemandangan sungai berwarna kehijauan yang diapit tebing batu dan pepohonan rimbun. Jadi, kalau bosan melihat laut, mungkin sudah waktunya “ganti tontonan” ke sungai.
Green Canyon dikenal masyarakat setempat dengan nama Cukang Taneuh, yang berarti “Jembatan Tanah”. Keindahan kawasan ini berasal dari perpaduan aliran Sungai Cijulang, tebing batu alami, serta vegetasi hijau yang membuat suasananya terasa sejuk dan asri. Wisatawan dapat menikmati panorama tersebut dengan menyusuri sungai menggunakan perahu dari dermaga menuju kawasan utama Green Canyon.

Bukan hanya menikmati pemandangan, pengunjung juga bisa mencoba body rafting bagi yang ingin merasakan liburan lebih menantang. Aktivitas ini mengajak wisatawan menyusuri aliran sungai secara langsung dengan perlengkapan keselamatan dan didampingi pemandu. Pilihan jalur dan durasi pengarungan dapat berbeda, sehingga wisatawan sebaiknya menyesuaikan paket dengan kondisi dan kemampuan fisik.
Untuk biaya, tiket masuk Green Canyon dilaporkan berada di kisaran Rp10.000 per orang. Sementara itu, wisatawan yang ingin mencoba body rafting perlu menyiapkan anggaran lebih karena aktivitas tersebut menggunakan sistem paket. Harga paket yang tersedia berada di kisaran Rp199.000 hingga Rp235.000, tergantung pilihan trek dan layanan yang diperoleh. Paket tertentu dapat mencakup pemandu, transportasi menuju sungai, perahu penjemput, serta perlengkapan keselamatan seperti helm, pelampung, dan alas kaki.
Dari sisi fasilitas, kawasan Green Canyon Pangandaran menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan, mulai dari area parkir, toilet, mushola, perahu wisata, hingga warung atau tempat makan di sekitar kawasan. Untuk aktivitas body rafting, tersedia pula perlengkapan keselamatan dan pemandu sungai. Fasilitas tersebut membuat pengunjung dapat menikmati wisata alam sekaligus tetap memiliki akses terhadap kebutuhan dasar selama berada di kawasan wisata.
Dengan perpaduan sungai hijau, tebing alami, pepohonan rimbun, fasilitas wisata, hingga aktivitas petualangan, Green Canyon Pangandaran cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam dengan pengalaman yang berbeda. Jadi, kalau ingin liburan seru tanpa perlu jauh-jauh ke luar negeri, Green Canyon bisa masuk daftar tujuan. Grand Canyon Amerika boleh terkenal, tetapi versi Sunda juga tidak kalah bikin melongo!
Popularitas Pangandaran sebagai destinasi liburan juga cukup tinggi. Pada periode libur sekolah 2026, kawasan Pangandaran dan Batukaras tercatat dikunjungi sekitar 283.060 wisatawan sejak 25 Juni. Tingginya kunjungan tersebut menunjukkan bahwa wisata alam di Pangandaran masih menjadi pilihan favorit masyarakat untuk menghabiskan waktu liburan.
Siap cari liburan yang seru dan menyegarkan? Green Canyon Pangandaran wajib masuk daftar! Nikmati sungai hijau, tebing eksotis, dan serunya body rafting. Yuk, ajak orang tersayang dan ciptakan cerita liburan yang tak terlupakan!
